Tips Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif merupakan salah satu dari banyak kemampuan yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Agar bisa bertahan di dunia kerja yang semakin kompetitif, kemampuan ini menjadi kunci utama yang wajib dikuasai. Menjadi kreatif bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan. Banyak perusahaan kini mencari orang-orang yang mampu berinovasi dan berpikir di luar kebiasaan.

Berpikir kreatif merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan. Siapapun bisa menjadi kreatif dengan latihan dan kemauan untuk mencoba banyak hal baru.  Memiliki keterampilan kreativitas yang kuat bermanfaat untuk menciptakan solusi inovatif, meningkatkan kinerja, dan kesuksesan karir maupun pribadi.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui langkah-langkah apa saja yang dapat membantu kita menjadi pekerja yang kreatif. Berikut ini cara mengasah kemampuan berpikir kreatif:

1. Bekali diri dengan wawasan luas

Membekali diri dengan wawasan luas menjadi salah satu hal yang penting dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif. Wawasan luas dapat memberikan kita banyak ‘bahan baru untuk diolah’ dengan cara baru dan tidak terduga. Hal ini dapat menciptakan ide-ide kreatif dan orisinil. Semakin banyak hal yang diketahui, semakin besar potensi kita untuk berinovasi dan menciptakan hal baru.

Ada banyak cara untuk menambah wawasan, yaitu: membaca buku, melakukan diskusi, mengikuti seminar atau pameran, menonton video idukatif, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan ini bisa menjadi sumber inspirasi yang bermanfaat untuk memicu timbulnya ide-ide kreatif. Selain itu, otak juga menjadi lebih luwes karena terbiasa memproses dan mengelola informasi yang beragam.

2. Coba banyak hal dan tantangan baru

Agar dapat terus berinovasi terkadang kita harus berani mengambil resiko dengan berani mencoba hal atau tantangan baru yang belum pernah dilakukan. Keluar dari zona nyaman dan melakukan hal baru dapat merangsang otak berpikir diluar kebiasaan. Hal ini tentu bisa menjadi stimulus yang bagus untuk mengembangkan kreativitas.

Rasa ingin tahu dan rasa penasaran yang tinggi akan mendorong kita untuk mengeksplorasi ide baru dan menemukan solusi kreatif. Untuk itu, bersikaplah terbuka terhadap hal-hal baru dan berbeda dari biasanya. Meskipun ada kemungkinan gagal, anggap saja kegagalan sebagai bagian dari proses belajar dan menjadi pelajaran berharga untuk kedepannya.

3. Melakukan kolaborasi

Kolaborasi menjadi salah satu kegiatan yang dapat mengasah kemampuan berpikir kreatif. Saat berkolaborasi, kita pasti melakukan diskusi dan saling bertukar ide dengan orang lain dari latar belakang dan keahlian berbeda. Hal ini dapat memberikan kita perspektif baru yang bermanfaat untuk menemukan ide-ide segar dan inovatif. Jangan ragu untuk melakukan kolaborasi dengan orang lain agar dapat terus menghasilkan ide-ide yang variatif. Terkadang ide kreatif tidak hanya muncul dari pemikiran sendiri, tetapi melalui diskusi kelompok yang terstruktur.

4. Latih kebiasaan berpikir kreatif

Agar keterampilan berpikir kreatif dapat terasah, kita juga perlu memupuk beberapa kebiasan yang dapat merangsang kemampuan berpikir kreatif. Salah satu caranya, yaitu dengan berlatih berpikir atau berimajinasi out of the box. Latih juga diri untuk berpikir kritis dalam menghadapi masalah dengan tidak langsung menerima solusi standar, tetapi mencari pendekatan yang belum pernah dicoba sebelumnya. Melakukan diskusi juga merupakan salah satu aktivitas yang dapat merangsang pikiran untuk menghasilkan ide-ide kreatif. Jangan terlalu membatasi rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu yang tinggi merupakan hal yang sangat bermanfaat dalam mengembangkan kreativitas.

5. Lakukan istirahat teratur

Bekerja terus menerus tanpa istirahat yang cukup akan membuat kelelahan. Kelelahan dapat menurunkan kemampuan berpikir. Agar kreativitas dapat terus terasah, kita perlu memiliki waktu istirahat yang cukup. Biasanya ide-ide terbaik muncul saat otak diberi kesempatan untuk istirahat tanpa ada tekanan. Untuk itu jangan ragu mengambil istirahat sejenak ketika merasa jenuh dan buntu. Istirahat yang cukup dapat membuat pikiran tetap segar sehingga dapat terus menghasilkan ide dan inovasi baru.

6. Ciptakan lingkungan kerja yang mendukung

Lingkungan kerja yang nyaman dan mendukung menjadi hal penting yang mempengaruhi kreativitas kita dalam berpikir dan bekerja. Agar ide-ide dan inovasi baru dapat terus muncul, kita bisa mencoba beberapa elemen dekoratif untuk menciptakan suasana kreatif di tempat kerja seperti, menambah tanaman hias, aksesoris kerja dengan warna-warna cerah, meja kerja yang bersih dan terorganisir, dan lainnya. Dengan menciptakan lingkungan yang tepat memberikan diri ruang untuk berpikir.

Self-management Saat Bekerja

Self-management adalah kemampuan mengatur, mengendalikan dan mengarahkan diri sendiri secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Kemampuan ini berguna di tempat kerja, terutama untuk mengatur prioritas, menetapkan tujuan, mengelola stres, dan beradaptasi dengan perubahan. Dengan self-management yang baik, kita dapat memaksimalkan produktivitas, meningkatkan kinerja, dan membangun profesionalitas secara baik dan efisien.

Berikut ini cara mengaplikasikan self-management yang bermanfaat untuk pekerjaan kita sehari-hari:

1. Manajemen waktu

Penerapan self-management yang baik memungkinkan kita untuk mengendalikan penggunaan waktu secara efektif dan efisien. Hal ini termasuk, memprioritaskan tugas, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, menghindari gangguan, dan mempertahankan fokus kerja. Selain itu, manajemen waktu juga berguna untuk menghindari distraksi atau gangguan ditempat kerja.

2. Pengendalian diri

Pengendalian diri ini berarti kita mampu mengelola emosi, mengatasi distraksi, mempertahankan fokus kerja, dan menghindari penundaan tugas yang menghambat produktivitas. Pengendalian diri berguna ketika dihadapkan pada situasi stres atau konflik di tempat kerja. Dengan menjaga emosi agar tetap stabil dan menghindari reaksi impulsif yang dapat merugikan diri sendiri, kita terhindar dari masalah yang tidak perlu.

3. Motivasi diri

Penerapan self-management selanjutnya adalah motivasi diri. Motivasi yang baik berasal dari dorongan dalam diri sendiri, bukan faktor eksternal. Memiliki motivasi internal bisa menuntun kita untuk menikmati pekerjaan dan terus semangat dalam melakukan tugas, semakin mampu memotivasi diri sendiri untuk menyelesaikan tugas dengan baik, semakin kita menjadi lebih produktif.

4. Adaptasi

Penerapan self-management juga memudahkan kita beradaptasi. Ketika dihadapkan pada perubahan di tempat kerja seperti perubahan teknologi, lingkungan, rekan kerja, dan sebagainya, manajemen diri yang baik membuat kita mampu mengarahkan diri untuk menghadapi perubahan. Dengan cara menjadi adaptif dan fleksibel dalam menerima perubahan. Tetap terbuka dengan perubahan, mau terus belajar, dan mengembangkan keterampilan baru yang dibutuhkan.

5. Menyelaraskan tujuan

Merancang dan mencapai tujuan karir yang tertata termasuk ke dalam penerapan Self-management. Dengan cara menetapkan tujuan secara spesifik, terukur, relevan dan berbatas waktu, serta membuat rencana aksi untuk mencapainya. Dengan menetapkan tujuan yang jelas kita menjadi tahu apa saja yang menjadi prioritas. Mengetahui prioritas memudahkan kita mengatur alur kerja dan mencapainya sesuai target. Ini juga berarti kita mampu melihat apa yang terbaik.

6. Terorganisir

Penerapan self-management selanjutnya membuat kita menjadi lebih terorganisir. Untuk menciptakan kerapian dan meningkatkan fungsionalitas dalam bekerja kita harus mampu dan mengorganisir sumber daya yang tersedia, termasuk waktu, fasilitas kerja, dan energi kita. Kemampuan ini bermanfaat untuk merancang penyelesaian tugas dan hal-hal apa saja yang harus dilakukan saat bekerja. Kita dapat merencanakan, memprioritaskan, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan penting yang harus dilakukan terlebih dahulu dan mana yang bisa dikerjakan selanjutnya. Ini menunjukan kita mampu mengelola tanggung jawab kerja secara mandiri.

Aktivitas yang Mengasah Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis tidak serta merta ada di setiap diri manusia. Keterampilan ini bukanlah bawaan lahir. Untuk menguasai kemampuan berpikir kritis, kita dapat mempelajari dan melatihnya. Semakin baik kita melatih dan mempraktekannya, semakin terasah kemampuan ini. Berikut beberapa aktivitas sehari-hari yang membantu kita mengasah kemampuan berpikir kritis:

1. Membaca

Membaca merupakan kegiatan yang memiliki banyak manfaat. Selain dapat memperluas wawasan dan informasi, membaca menjadi salah satu kegiatan yang efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Cari dan baca buku atau artikel yang membahas berbagai topik dengan isi materi yang memerlukan pemahaman mendalam. Dengan terpapar ide dan argumen yang ada dalam buku, mendorong kita untuk menganalisis dan mengevaluasinya. Rajin membaca juga memperkuat kemampuan menyusun argumen yang logis dan mendukung pemikiran kritis.

2. Banyak bertanya

Rasa ingin tahu yang tinggi juga menjadi salah satu kegiatan yang mampu mengasah kemampuan berpikir kritis. Kritis menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti bersifat tidak lekas percaya, selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan, dan tajam dalam menganalisis. Contohnya, saat mendapatkan informasi terbaru yang belum diyakini kebenarannya, kita berusaha mencari sumber lain yang dapat dipercaya untuk menilai kebenaran informasi tersebut. Salah satu caranya yaitu dengan bertanya.

Mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar secara tidak langsung membantu otak untuk menganalisis setiap informasi yang diterima. Nilai tambah dari kebiasaan bertanya juga dapat membantu mengembangkan keterampilan problem solving. Sehingga kita dapat belajar memecahkan masalah secara sistematis dan kritis

3. Mendengarkan

Cara lain untuk mengasah kemampuan berpikir kritis adalah mendengarkan secara aktif. Mendengarkan disini bukan hanya sekedar mendengarkan, tetapi juga menyimak dengan seksama agar memahami perspektif lawan bicara. Untuk kemudian merespon percakapan tersebut dengan positif dan menciptakan atmosfir percakapan yang produktif. Cobalah mendengarkan tanpa menghakimi, karena berpikir kritis adalah tentang menjaga bagaimana kita bisa tetap open-minded.

4. Debat atau diskusi

Berpartisipasi dalam debat atau diskusi, baik secara formal maupun non formal merupakan salah satu aktivitas yang efektif untuk melatih dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis.  Saat terlibat debat atau diskusi, biasanya kita mempertimbangkan argumen dari berbagai perspektif, mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan argumen, menyusun argumen sendiri secara logis didukung bukti yang kuat. Di sisi lain, melakukan debat atau diskusi juga mendorong kita untuk berbagi ide, mempertanyakan asumsi, dan bekerjasama untuk mendapatkan pemahaman bersama.

5. Bermain game

Tidak selamanya bermain game itu berdampak buruk. Ternyata ada beberapa game yang justru mengasah kemampuan berpikir kritis. Contohnya, TTS, catur, sudoku, puzzle, dan beberapa game lain yang menantang pemainnya untuk menganalisis situasi, membuat keputusan strategis, dan memecahkan masalah. Semuanya merupakan bagian dari proses berpikir kritis. Jadi, selain terasa menyenangkan dan dapat membunuh waktu luang, bermain game dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Alasan Self-Management Penting Dikembangkan

Sebagai seorang pekerja kita dituntut memiliki beberapa keterampilan yang perlu dikuasai guna menunjang pekerjaan. Salah satu keterampilan yang dibutuhkan yaitu kemampuan self-management. Self-management atau pengendalina diri adalah kemampuan seseorang dalam mengelola dan mengatur dirinya sendiri secara efektif.

Self-management mencakup kemampuan untuk mengelola waktu, prioritas, emosi, serta tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Keterampilan self-management yang kuat juga memungkinkan kita dapat menjalin komunikasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan membangun hubungan interpersonal yang baik.

Berikut alasan mengapa self-management penting untuk kita kembangkan di antaranya:

1. Meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja

Kemampuan self-management bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja. Dengan cara mengalokasikan waktu dengan bijak, menghindari menunda-nunda, dan fokus pada tugas-tugas penting. Tugas dapat selesai sesuai deadline. Waktu kerja pun menjadi lebih efisien. Selain itu, kualitas kerja akan meningkat. Self-management yang baik akan selalu mendorong kita untuk melakukan perbaikan secara berkala.

2. Meningkatkan peluang karir

Selain dapat meningkatkan produktivitas kerja, manajemen diri juga membantu kita bekerja. Hal inilah yang kemudian bermanfaat untuk meningkatkan jenjang karir. Dengan menunjukan sikap profesional, tanggung jawab, dan inisiatif dalam bekerja, ini dapat membangun hubungan baik dengan atasan, rekan kerja, dan klien. Jika hal ini konsisten kita terapkan, reputasi dan kredibilitas diri meningkat, membuka peluang karir yang lebih baik.

3. Meningkatkan keterampilan dan kemandirian

Alasan selanjutnya mengapa self-management dan penting karena dapat meningkatkan kemandirian. Caranya dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri. Kita dapat menentukan area mana saja yang perlu ditingkatkan dan belajar untuk mengembangkan diri, baik secara formal maupun informal. Dengan demikian, ini meningkatkan kompetensi yang relevan dengan karir yang di jalani. Memudahkan kita untuk beradaptasi dengan perubahan, menyesuaikan diri dengan situasi baru, dan menjadi lebih fleksibel dengan perkembangan dunia kerja.

Kemampuan ini juga memungkinkan kita untuk bekerja secara mandiri dan mengambil inisiatif. Kita menjadi lebih proaktif dan berani mengambil tanggung jawab atas pekerjaan kita. Tidak perlu terus-menerus diawasi atau diarahkan oleh atasan ataupun rekan kerja.

4. Kemampuan menyelesaikan masalah

Ketika kita bisa mengelola diri dengan baik, kita cenderung menjadi lebih tenang dan analitis. Saat dihadapkan pada situasi atau masalah kritis kita dapat memutuskan dan menggali solusi yang efektif dan rasional. Mengetahui hal apa yang harus dilakukan ketika berada dalam kondisi tertentu, adalah salah satu kelebihan dari orang yang sudah memiliki manajemen diri yang baik.

5. Mengelola stres

Kemampuan mengelola diri sendiri juga membuat kita mampu mengelola emosi dengan baik. seseorang yang mampu mengendalikan emosinya cenderung lebih baik dalam mengatasi stres. Ia dapat mengenali tanda-tanda stres lebih awal sehingga mampu mengambil langkah untuk mengatasinya. Kita juga menjadi tetap tenang dan positif saat berada di bawah tekanan.

Self-management adalah keterampilan yang membutuhkan waktu dan kesabaran untuk mengembangkannya yang berasal dari proses memahami diri sendiri dan pengalaman hidup. Inilah alasan mengapa self-management merupakan keterampilan penting bagi setiap orang, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk karir.

Cara Meningkatkan Ketelitian dalam Bekerja, Untuk Hasil Kerja Maksimal

Teliti berarti selalu cermat dan berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Ketelitian juga mencegah kita tidak melakukan kesalahan. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari sesuatu yang namanya ketelitian. Mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal yang kompleks. Begitupun saat bekerja. Jika kita mampu menguasai kemampuan ini, dapat dipastikan kita dapat terhindar dari kesalahan kerja. Sehingga dapat memberikan hasil terbaik dalam menyelesaikan setiap tugas.

Agar ketelitian kerja dapat meningkat, yuk ikuti cara berikut ini:

1. Fokus pada pekerjaan

Ketelitian memerlukan fokus dan konsentrasi yang baik. Jika kita fokus saat bekerja, maka semua hal yang dikerjakan pasti hasilnya akan baik. Agar fokus tetap terjaga, cobalah bekerja di tempat yang tenang. Hindari distraksi yang dapat mengganggu fokus kerja. Dengan menjaga fokus dan konsentrasi, maka ketelitian kerja akan meningkat. Hal ini dapat meminimalisir terjadinya kesalahan yang tidak perlu.

2. Mengecek ulang pekerjaan

Saat kita merasa semua tugas sudah selesai, biasakan untuk mengecek ulang atau memeriksa kembali semua tugas sekali lagi. Cara ini merupakan cara terbaik untuk memastikan bahwa pekerjaan tersebut bebas dari kesalahan.

Dengan mengecek ulang, kita dapat menemukan kesalahan yang mungkin terlewat. Kita juga dapat meminta bantuan rekan kerja untuk mengecek atau mereview hasil kerja kita, siapa tahu mereka menemukan kesalahan yang tidak disadari atau terlewat oleh kita.

3. Jangan tergesa-gesa

Saat mendapat tugas dari atasan tak jarang kita ingin tugas tersebut cepat selesai. Hal ini membuat kita terburu-buru untuk menyelesaikannya. Untuk menjadi orang yang teliti, kita perlu menghindari sikap ini atau tidak boleh tergesa-gesa. Setiap hal yang dilakukan dengan tergesa-gesa, dapat membuat kita terjebak dalam kesalahan.

Biasakan lebih sabar dan pelan-pelan dalam mengerjakan tugas dengan mengerjakannya tidak mepet deadline. Segala hal yang dikerjakan dalam waktu terdesak akan lebih rentan oleh kesalahan.

4. Beri jeda sejenak

Melakukan jeda atau istirahat sejenak sangat dibutuhkan untuk menjaga fokus. Hal ini juga menghindari kita dari kelelahan. Melakukan jeda sejenak dari tumpukan tugas, dipercaya dapat membantu menyegarkan pikiran dan memulihkan energi. Otak juga butuh istirahat. Jangan memaksa untuk melanjutkan pekerjaan saat sudah lelah. Melakukan jeda sejenak bisa membuat pikiran kita terbuka, segar, dan siap melanjutkan pekerjaan lagi.

Ketelitian adalah proses yang membutuhkan waktu dan latihan. Jika kita sering melakukan kesalahan saat bekerja maka bersabarlah. Teruslah berlatih dan berusaha meningkatkan ketelitian secara bertahap. Jika kita sudah terbiasa menyelesaikan segala sesuatu secara teliti, maka kita akan merasa puas dengan hasil akhirnya.

Punya Rekan Kerja yang Sulit Diajak Bekerja Sama? Berikut Cara Mengatasinya!

Dalam bekerja kita dituntut untuk saling berkolaborasi atau bekerjasama dengan rekan kerja lain, baik yang satu divisi maupun berbeda divisi dengan kita. Namun, tidak semua rekan kerja mudah untuk diajak kerjasama. Terkadang tidak jarang kita menghadapi rekan kerja yang sulit untuk diajak bekerja sama. Apalagi ditambah dengan perbedaan gaya kerja, kepribadian, dan sikap dari masing-masing rekan kerja.

Situasi ini terkadang menyulitkan, sebab rekan kerja yang sulit diajak bekerja sama dapat menghambat proses kerja. Meskipun menjadi tantangan tersendiri, mau tidak mau kita harus berusaha menghadapinya, sehingga pekerjaan tidak terhambat dan dapat berjalan lancar.

Yuk, coba beberapa cara ini untuk menghadapi rekan kerja yang sulit diajak bekerjasama:

1. Dekatkan diri dan pahami karakternya

Melakukan pendekatan atau mencoba akrab menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Jika sebelumnya kita belum pernah bekerjasama atau satu tim dengan mereka, maka menjalin hubungan tersebut lebih dahulu mutlak dilakukan. Bukan tidak mungkin rekan kerja yang sulit diajak bekerjasama di sebabkan kita yang tidak dekat atau akrab dengan mereka.

Selain itu kita juga perlu mengenal karakter rekan kerja dengan baik. Setiap orang memiliki karakternya masing-masing. Dengan mengenal karakter, kita dapat mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk mengajak mereka bekerjasama. Semakin kita akrab dan mengenali karakter masing-masing, maka semakin mudah untuk mengajak mereka bekerjasama.

2. Jalin komunikasi yang baik

Saat bekerja komunikasi menjadi aspek penting. Hampir semua aktivitas kerja membutuhkan komunikasi, mulai dari bertukar ide, pendapat, masukan serta kritikan. Komunikasi juga menjadi pondasi utama untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang di tempat kerja. Komunikasi yang jelas dan terbuka dapat mengurangi kesalahpahaman dan memudahkan kita untuk berkolaborasi.

Terkadang rekan kerja yang sulit diajak bekerjasama, salah satu penyebabnya adalah komunikasi yang buruk. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu menjalin komunikasi yang baik dengan rekan kerja. Tidak harus selalu tentang pekerjaan, kita dapat berkomunikasi mengenai hal-hal di luar pekerjaan seperti menanyakan hobi, tren terbaru, maupun sekadar basa-basi belaka.

3. Fokus dan tetap profesional

Meskipun kita merasa kesal dengan rekan kerja yang sulit untuk diajak bekerjasama, namun disisi lain kita juga dituntut untuk tetap bersikap profesional. Ada baiknya kita tetap fokus dengan apa yang dikerjakan dan berusaha menyelesaikan tugas sebaik mungkin. Ingat bahwa kita masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan demi kesuksesan karir kita juga.

Jadi, fokuslah pada tujuan dan ingatkan rekan kerja yang sulit diajak bekerja sama tentang pentingnya kerjasama untuk mencapai tujuan. Ini juga agar kita tidak terlalu terbebani dengan masalah yang muncul akibat tidak adanya kerjasama yang baik.

4. Introspeksi diri

Terkadang tanpa kita sadari ada tindakan atau ucapan kita yang menyakiti perasaan rekan kerja. Sehingga menyebabkan mereka menjaga jarak dan enggan untuk bekerjasama dengan kita. Oleh karena itu, introspeksi diri sendiri apakah selama ini cara kita bertindak terhadap mereka ada yang salah, atau mungkin secara tidak sadar kita pernah melakukan kesalahan. Coba perlakukan rekan kerja dengan baik, agar pekerjaan menjadi tidak terganggu dan rekan kerja mau untuk bekerjasama.

5. Cari solusi bersama atasan atau HRD

Jika kita sudah berupaya dan mencoba berbagai cara namun rekan kerja masih sulit untuk diajak bekerja sama, maka solusi terakhir yang bisa diambil adalah dengan membicarakan dan mencari solusi bersama atasan atau HRD. Mereka pasti akan mencoba membantu menemukan solusi yang tepat untuk kedua belah pihak. Yang paling penting, ketika membicarakan permasalahan, usahakan untuk tetap objektif dan jangan menjatuhkan rekan kerja.

Lima Langkah Membangun Komunikasi di Tempat Kerja

Skill komunikasi saat ini menjadi salah satu aspek penting dalam bekerja. Hampir semua aktivitas kerja membutuhkan komunikasi, mulai dari bertukar ide, pendapat, masukan serta kritikan. Komunikasi juga menjadi pondasi utama untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang di tempat kerja.

Baik dan buruknya komunikasi di tempat kerja juga berpengaruh terhadap kualitas yang karyawan dalam menyelesaikan tugas. Bagaimana cara pekerja menyelesaikan konflik, berinteraksi dengan rekan kerja, hingga bagaimana cara karyawan membangun pola kerja yang efektif dengan tim atau rekan kerja berkaitan erat dengan komunikasi.

Berikut cara membangun komunikasi yang baik di tempat kerja:

1. Sampaikan informasi secara jelas

Penyampaian informasi atau pesan berdampak penting saat berkomunikasi. Saat berbicara dengan lawan bicara ucapkan pesan yang ingin disampaikan secara efektif, jelas, singkat, dan tidak berbelit-belit agar lawan bicara dapat mengerti apa yang disampaikan. Hindari penggunaan bahasa atau istilah yang ambigu, yang mungkin sulit dipahami orang lain.

Agar komunikasi berjalan efektif, sebaiknya pikirkan dulu apa pesan yang hendak disampaikan. Kemudian rangkai kalimat yang pas untuk menyampaikannya agar orang bisa mengerti dan memahami apa yang kita maksud.

2. Mampu mendengarkan dengan baik

Menjalin komunikasi tidak hanya tentang berbicara atau menyampaikan pesan saja. Namun, komunikasi juga berarti mampu mendengar pesan dan menjadi pendengar yang baik bagi lawan bicara. Jika diperlukan, kita juga dapat memberikan umpan balik dengan mengajukan pertanyaan yang memastikan pemahaman kita. Hal ini bertujuan untuk membantu kita memahami pesan atau informasi yang disampaikan.

3. Perhatikan bahasa tubuh dan nada bicara

Komunikasi yang baik juga bisa dilihat dari bahasa tubuh atau bahasa nonverbal. Komunikasi   berjalan dengan baik jika kita mampu memperhatikan bahasa tubuh yang digunakan saat berkomunikasi dengan lawan bicara, misalnya melakukan kontak mata, tidak membungkukkan tubuh, dan lain sebagainya. Mengatur nada bicara juga perlu diperhatikan saat berkomunikasi agar tidak terlalu pelan atau terlalu kencang.

4. Mampu berpikir terbuka

Agar komunikasi berjalan efektif, kita perlu memiliki pemikir terbuka terhadap informasi dari lawan bicara. Hindari persepsi dan buanglah prasangka buruk. Jangan menilai terlalu cepat, dan terbukalah dengan umpan balik lawan bicara. Dengan memiliki pemikiran terbuka, kita lebih mudah memahami pesan yang orang lain sampaikan.

Hal ini juga menunjukan sikap ramah dan sopan saat berinteraksi. Sifat terbuka terhadap umpan balik memungknkan kita untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan kolaborasi di tempat kerja.

5. Pilih media komunikasi yang tepat

Memilih media komunikasi yang tepat menjadi hal yang patut diperhatikan dalam beberapa situasi. Pertimbangkan kebutuhan informasi dan urgensi pesan saat memilih media komunikasi. Beberapa pesan mungkin lebih baik disampaikan secara langsung melalui pertemuan tatap muka, sementara beberapa pesan lain dapat dikomunikasikan melalui pesan instan, telepon, maupun video conference.

Kita juga perlu bijak dalam memilih media komunikasi agar tidak terjadi salah paham atau menjadi sumber konflik. Apalagi di era digital saat ini, teknologi memudahkan kita untuk berkomunikasi dimana saja dan kapan saja.

Demikian lima langkah mudah membangun komunikasi ditempat kerja yang dapat segera diterapkan di tempat kerja Anda.

LOWONGAN KERJA!

“Ingin mengembangkan karier di dunia audit bersama tim yang profesional dan berpengalaman? Kami membuka kesempatan bagi Anda untuk bergabung sebagai Supervisor, Senior Staff, dan Junior Staff di kantor akuntan publik. Jika Anda memiliki minat dalam audit eksternal, memiliki ketajaman analitis, semangat untuk terus berkembang, dan ingin berkontribusi dalam proyek-proyek menantang, inilah saatnya untuk mengambil langkah berikutnya dalam karier Anda!”

Kualifikasi untuk Supervisor:

  • Laki-laki/Perempuan
  • Pendidikan: Minimal Sarjana (S1) Akuntansi.
  • Sertifikasi: Lebih diutamakan jika memiliki gelar profesi atau sedang dalam proses memperoleh CPA (Certified Public Accountant).
  • Pengalaman: Minimal lima tahun pengalaman kerja di bidang audit eksternal, dan setidaknya dua tahun di posisi supervisi.

Kompetensi:

  • Mampu menganalisis laporan keuangan dan mengidentifikasi ketidaksesuaian atau potensi risiko.
  • Memahami dan mampu menerapkan standar akuntansi (PSAK, IFRS, GAAP), regulasi terkait audit, dan praktek terbaik dalam industri audit.
  • Dapat menginterpretasikan data keuangan dan menemukan pola atau anomali dalam transaksi.
  • Menguasai proses audit dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penyelesaian audit.
  • Mampu mengidentifikasi permasalahan yang kompleks dalam proses audit dan mencari solusi sesuai dengan regulasi dan standar audit.
  • Memahami metodologi audit berbasis risiko dan strategi pengujian substantif serta compliance testing.
  • Mampu menyusun dan menyampaikan laporan audit secara jelas dan profesional.
  • Mampu berkomunikasi secara efektif dengan klien untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
  • Memiliki keterampilan negosiasi yang baik dalam menjelaskan temuan audit kepada klien.
  • Mampu memimpin tim audit, memberikan arahan, dan memfasilitasi pertemuan audit.
  • Dapat bekerja secara independen maupun dalam tim dengan supervisi minimal.
  • Memiliki kemampuan supervisi yang kuat untuk mengelola tim, memprioritaskan pekerjaan, dan mengatasi tantangan yang muncul selama proses audit.
  • Dapat membimbing dan mengembangkan anggota tim.
  • Menjunjung tinggi kode etik profesi auditor dan prinsip independensi.
  • Memiliki sikap skeptis profesional yang kuat dalam melakukan evaluasi terhadap laporan keuangan.

Kualifikasi untuk Senior Staff:

  • Laki-laki/Perempuan
  • Pendidikan: Minimal Sarjana (S1) Akuntansi
  • Pengalaman: Minimal dua tahun dalam audit eksternal di Kantor Akuntan Publik (KAP)

Kompetensi:

  • Mampu melakukan analisis yang mendalam terhadap laporan keuangan dan risiko audit.
  • Memahami standar akuntansi (PSAK, IFRS, dan GAAP) serta regulasi terkait audit.
  • Memahami proses audit dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penyelesaian audit.
  • Mampu mengidentifikasi ketidaksesuaian dan permasalahan dalam proses audit.
  • Memiliki kemampuan komunikasi verbal dan tertulis yang baik, termasuk dalam menyampaikan hasil audit kepada klien.
  • Mampu membimbing dan mengarahkan junior auditor dalam pelaksanaan tugas audit.
  • Dapat bekerja secara independen maupun dalam tim dengan supervisi minimal.
  • Mampu mendokumentasikan tugas-tugas atau temuan audit dengan jelas dan terstruktur.
  • Memiliki keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah yang baik.
  • Teliti dalam mengolah data dan informasi audit.
  • Menjunjung tinggi kode etik profesi auditor dan prinsip independensi.
  • Memiliki sikap skeptis profesional yang kuat dalam melakukan evaluasi terhadap laporan keuangan.

Kualifikasi untuk Junior Staff:

  • Laki-laki/Perempuan
  • Pendidikan: Minimal Sarjana (S1) Akuntansi
  • Pengalaman: lulusan baru (freshgraduate) atau memiliki satu tahun pengalaman dalam audit eksternal di Kantor Akuntan Publik (KAP)

Kompetensi:

  • Memahami dasar-dasar akuntansi keuangan, auditing dan perpajakan.
  • Mengenali standar akuntansi yang berlaku, seperti PSAK, IFRS, atau GAAP.
  • Memiliki pemahaman tentang proses audit eksternal dan risiko audit.
  • Mampu menganalisis laporan keuangan dan mengidentifikasi ketidaksesuaian dasar.
  • Mampu mendokumentasikan tugas-tugas atau temuan audit dengan jelas dan terstruktur.
  • Memiliki keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah yang baik.
  • Teliti dalam mengolah data dan informasi audit.
  • Mampu mengarahkan diri sendiri dan bekerja dengan tenggat waktu yang ketat.
  • Mampu bekerja dalam tim dan memiliki komunikasi yang baik dengan kolega dan klien.
  • Menjunjung tinggi kode etik profesi auditor dan prinsip independensi.
  • Memiliki sikap profesional yang kuat dalam melakukan peran sebagai auditor.

Kesempatan ini terbuka bagi Anda yang ingin berkembang dan berkontribusi di dunia audit eksternal. Jika Anda memenuhi kualifikasi dan siap untuk mengambil tantangan baru, jangan ragu untuk melamar!

Kirimkan CV dan surat lamaran Anda ke rekrutmen@akuntansi.id  dengan mencantumkan posisi yang dilamar dan nama Anda di subjek email (contoh: supervisor_Abidin) sebelum Jumat, 30 Mei 2025.  Kami tunggu kehadiran Anda dalam tim kami!”

Cara Menciptakan Lingkungan Kerja yang Sehat dan Nyaman

Memiliki lingkungan kerja yang sehat merupakan dambaan bagi setiap orang. Lingkungan kerja yang sehat dan nyaman, selain bisa menjadi penunjang produktivitas juga menjadi penyemangat kerja.

Namun tidak semua orang beruntung mendapatkan lingkungan kerja yang sehat, banyak juga orang-orang yang bekerja di lingkungan kerja yang tidak sehat atau toxic. Contoh, lingkungan kerja yang tidak sehat adalah tidak dihargai, memiliki atasan yang kurang suportif, tidak memiliki kesempatan untuk memperlihatkan kemampuan diri, penilaian yang tidak objektif, rekan kerja yang tidak mendukung, dan lain sebagainya. Dengan alasan inilah banyak karyawan akhirnya mengundurkan diri.

Oleh karena itu agar tercipta lingkungan kerja yang sehat, berikut ini beberapa caranya:

1. Ciptakan tempat kerja yang nyaman

Kenyamanan merupakan salah satu kunci utama terciptanya produktivitas kerja, karyawan yang memiliki rasa nyaman di tempat kerja cenderung menjadi lebih fokus, semangat dalam bekerja, hingga dapat memicu produktivitas yang tinggi dan kualitas kerja yang maksimal. Salah satu cara menciptakan kenyamanan adalah dengan menata ulang meja kerja sesuai selera, mengatur tugas-tugas dengan lebih baik, dll.

2. Bangun komunikasi yang baik

Komunikasi adalah hal terpenting dan yang paling utama dalam bekerja. Membangun komunikasi yang baik antar sesama rekan kerja maupun dengan atasan sangat bermanfaat karena tuntutan untuk saling bekerjasama dan saling membantu. Hal ini dapat meminimalisir terjadinya miss komunikasi.

Cara membangun komunikasi yang baik bisa dimulai dengan mengajak ngobrol santai rekan kerja, saling menyapa ketika bertemu atau berpapasan, makan siang bersama saat jam istirahat, saling tolong menolong, saling memberikan ide atau masukan saat bekerja, dan lain sebagainya.

3. Bangun budaya kerja yang baik

Budaya kerja yang baik sangat penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, nyaman dan harmonis. Di tempat kerja, budaya yang baik dapat memberikan dampak positif pada kinerja karyawan, seperti meningkatkan motivasi, produktivitas, dan kepuasan kerja.

Budaya kerja yang baik juga dapat memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mengeksplorasi dan mencoba hal baru. Contoh budaya kerja yang baik adalah mengutamakan kejujuran, keterbukaan, transparansi, saling menghargai, memberi apresiasi, fleksibilitas, dan keseimbangan kerja atau work-life balance.

4. Fasilitas kerja yang mendukung

Fasilitas yang mendukung saat bekerja menjadi faktor penting terciptanya lingkungan kerja yang sehat. Dengan fasilitas pendukung yang lengkap, karyawan lebih produktif sehingga mampu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan mudah. Contoh fasilitas kerja yang dapat menunjang pekerjaan, mulai dari tersedianya tempat kerja yang nyaman hingga peralatan kerja yang sesuai dengan kebutuhan karyawan. Misalnya, komputer atau laptop, printer, dan fasilitas pendukung lainnya.

Hal yang Harus Dilakukan Ketika Melakukan Kesalahan Kerja

Saat bekerja kita pasti pernah melakukan kesalahan. Melakukan kesalahan merupakan hal yang wajar dan lumrah. Dari kesalahan-kesalahanlah kita belajar hal-hal baru yang dapat menjadi pelajaran kedepannya.

Kesalahan yang pernah kita lakukan dimasa lalu menjadi bagian dari proses pengembangan diri. Saat kita berbuat salah, kita harus langsung memperbaiki. Mencari cara agar kesalahan tersebut tidak terulang kembali. Ini bertujuan agar kita tidak sering mendapat teguran dari atasan maupun rekan kerja lain. Selain itu, agar tidak menjadi beban pikiran kita sendiri.

Agar kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan tidak berlulang lagi, kita harus tahu bagaimana cara mengatasinya dengan cara-cara berikut ini:

1. Mengakui kesalahan

Memang tidak mudah mengakui kesalahan. Namun kita harus tetap jujur atas kesalahan yang kita perbuat baik kepada atasan maupun rekan kerja. Tujuannya agar kita tidak kehilangan kepercayaan dari orang lain. Usahakan untuk tidak menutupi kesalahan kepada siapapun yang berdampak atas kesalahan kita. Apalagi bila kesalahan tersebut berdampak besar dan dapat menghambat pekerjaan. Namun, jika kesalahan tersebut kecil dan tidak berdampak pada pekerjaan maupun orang lain, kita tetap harus memperbaikinya.

2. Mencari tahu letak kesalahan dan cara mencegahnya

Kita harus dapat mencari tahu sumber kesalahan dan mencari solusi untuk memperbaiki situasi. Cari tahu dan catat apa saja hal yang bisa membuat kita terlibat dalam masalahan tersebut. Lalu sebisa mungkin hindari hal tersebut agar tidak terulang. Jika kita terus mengulangi kesalahan yang sama dan terus-menerus, hal tersebut bisa berpengaruh negatif terhadap penilaian performa kerja.

3. Tidak melibatkan dan menyalahkan orang lain

Saat melakukan kesalahan sebaiknya tidak melibatkan atau menyalahkan orang lain. Sekalipun bekerja dalam tim dan ada andil dari anggota tim lain dalam kesalahan tersebut, sebaiknya tidak melibatkan apalagi jika tim tersebut merupakan tanggungjawab kita. Jika sampai menyalahkan orang lain, ini akan memperburuk keadaan dan atasan pun akan menganggap kita sebagai orang yang tidak profesional dan tidak bertanggungjawab.

Jelaskan duduk permasalahan yang terjadi secara netral dan apa adanya dengan tidak menyalahkan atau melibatkan orang lain ataupun mencari-cari alasan yang terkesan membela diri.

4. Mencari solusi

Setelah kita mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat, kita juga harus segera membawa solusi untuk memperbaiki kesalahan yang ada. Termasuk mencegah agar masalah tersebut tidak terulang kembali. Semakin cepat menemukan solusi, tentu semakin besar pula masalah bisa segera diselesaikanan.

5. Berubah menjadi pribadi yang lebih baik

Setelah kita mengakui kesalahan, hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan pembenahan diri. Mulai dari melakukan manjamen ulang pekerjaan atau perbaikan perilaku diri. Kita juga dapat menggali kemampuan teknis dan kemampuan lain yang berpotensi mendukung pekerjaan. Selalu biasakan diri untuk teliti dalam setiap tugas untuk menghindari dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Itulah beberapa hal yang bisa diterapkan jika melakukan kesalahan saat bekerja. Yang terpenting adalah tidak mengulangi kesalahan yang sama dan langsung memperbaikinya. Jadikan kesalahan sebagai pelajaran yang berharga untuk kedepannya. Anggap kesalahan yang pernah diperbuat sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan diri.